RSS Feed

prolog

Posted by Unknown Label:



Ini bukan cerita kehidupan dua buah keluarga yang bermusuhan, yang anak - anak mereka saling jatuh cinta, kemudian mati oleh cinta. Kehidupan cintaku lebih romantis dan realistis dari kisah itu, yang jelas aku tak mau mati seperti mereka cuma gara - gara cinta. 

Ini juga bukan cerita permusuhan The Jack dan Viking, karna aku The gunners. Dan aku juga gak mau mati cuma gara - gara bola.

Lalu, apalah aku ini? Aku adalah Romeo, yah, itulah namaku, Romeo. Entah bagaimana dulu kedua orang tuaku bisa memberikan nama ini padaku. Yang jelas keluargaku dulu tidak memiliki televisi saat aku lahir, jadi cerita permusuhan The Jack dan Viking tak mungkin inspirasinya. Terinspirasi Shakespeare juga tidak mungkin, karena ayahku bukan tipe seorang pecinta sastra, karena rasa cintanya telah sepenuhnya dia berikan untuk ibuku. Jadi, nama ini adalah sebuah takdir yang terjadi karna kebetulan belaka.
Dulu nama ini membuatku bangga, setelah aku mengetahui sebuah kisah cinta "Romeo n Juliet", dimana tokoh romeo diperankan oleh Leonardo D Caprio. Teman - temanku iri padaku karna aku punya nama keren yang sama dengan nama tokoh yang diperankan oleh orang yang tampan juga.

Semakin dewasa aku semakin populer. Sempat saat aku kelas 5 SD, aku menjadi rebutan geng cewek di kelasku. Aku yang masih polos tidak tau menahu tentang apa yang terjadi, dan apa yang harus aku lakukan. Meski sebenarnya aku tertarik pada salah seorang temanku disana. Namun terakhir aku bertemu mereka, seolah - olah kejadian itu tak pernah ada, mungkin mereka malu mengakuinya. Atau akunya saja yang dulu ke GR an.

Itu sekilas cerita masalaluku. Kini aku seorang pemuda yang baru saja akan memulai masa SMA. Hari ini adalah acara perkenalan pertama kali di kelas. SMA ini merupakan SMA terfaforit di kotaku. Sehingga sedikit sekali teman SMPku yang masuk SMA ini. Dan tak satupun yang masuk ke kelasku. Sehingga tak satupun yang aku kenal.

Aku berjalan pelan melewati koridor menuju sebuah pintu bertuliskan "kelas 10.9". Yah, itulah nama kelasku yang baru. Aku berjalan dengan perasaan dag dig dug aneh yang semakin menggila dengan semakin dekatnya aku dengan pintu kelas ini. Dari dulu aku memang seorang anak yang pemalu. Dan anehnya aku selalu dihadapkan dengan kondisi sendirian di tempat - tempat baru.

Kelas sudah hampir dipenuhi oleh orang - orang, yang saling mengobrol satu sama lain. Aku tak berani memperhatikan mereka, mataku tertuju pada ubin, dan langkahku ku percepat ke arah bangku yang paling belakang. Disana belum ada anak yang mendudukinya sekali.

Pada bagian pojok depan ada sekitar 6 orang anak cowok yang tampaknya sudah saling mengenal, mereka bercanda dan tertawa seperti sudah terbiasa saja dengan kelas ini. Beberapa orang anak baru saja memasuki kelas dan kemudian disusul oleh seorang ibu-ibu setengah baya yang memakai seragam coklat, tampaknya dia wali kelas kami.

Tubuhnya pendek dan kurus kecil, dengan rambut pendek beberapa cm diatas bahu. Membawa segelas teh di tangan kanannya dan tas di bahu kirinya. Semua anak terdiam. Dia tidak duduk di bangku untuk guru, melainkan duduk di bangku paling depan yang tidak ada orangnya.

"Assalamu-alaikum... Warah matulahi,,, wabarokatuh" suaranya terdengar serak dan melengking dengan kata - kata yang dibuatnya patah - patah.

"Waalaikum salam...." Semua anak menjawab dengan serentak.

"Selamat datang di kelas baru kalian" Dia tersenyum dan seolah - olah menganggap kami semua anak TK. kemudian dia memperkenalkan diri, dan ternyata namanya ibu Yanti. "Sekarang, acaranya perkenalan dulu yuk,,, maju satu-satu ya" map berisi absen dibukanya dan dibacakan olehnya. Aku semakin tegang, ini adalah kegiatan yang paling aku benci.

Satu persatu diantara kami memperkenalkan diri di depan dan ditanya berbagai macam pertanyaan. Dan sampailah pada giliranku dipanggilnya.

"Romeo...Hah, serius nih namanya cuma Romeo?" Semuanya langsung terdiam sejenak, kemudian langsung disusul dengan tawa dan obrolan-obrolan kecil yang mendiskusikan namaku. "Ayo pak Romeo maju, yang mana anaknya" ibu yanti langsung menekgakkan badannya mencari-cari dinaba aku berada.

Dengan badan yang tiba-tiba terasa sangat berat aku berdiri dan sontak semua mata tertuju padaku. Bagaikan tertimpa sebuah gunung tanpa sadar aku terduduk lemas tak berdaya disambut suara sorak sorai sekelas. "Lhoh kok duduk lagi? Ayo maju, kita kan ingin mendengar kisah romantis romeo" kata bu Yanti yang disambut tawa anak sekelas yang makin menggila bagai harimau yang kakinya tertusuk duri.

Aku semakin tak mampu untuk berdiri dan sepertinya bu Yanti menyadari keadaanku, sehingga dia menyuruh semua anak tenang dulu. Semuanya sudah tenang, namun tatapan mereka semua masih tertuju padaku. "Ayo maju jangan malu-malu, masak romeo malu malu gitu".

Aku pun berdiri lagi, memberanikan diriku untuk melangkah kedepan kelas. Dan aku mulai berbicara, "Selamat siang, nama saya Romeo, biasa dipanggil Romi...".

"Kenapa gak Meo aja? Kan Romi gak nyambung sama nama asli kamu" tanya bu Yanti memotong kata-kataku. Aku hanya terdiam tanpa jawaban. "Ya teman-teman ya, Romeo dipanggil Meo saja ya...". Semua serentak menjawab "iya Bu...".

Aku hendak melanjutkan perkenalanku, namun tiba-tiba salah seorang anak di kelas berteriak merdu namun sangat menyesakkan dada, "kenapa tidak skalian dipanggil meong aja, kan lebih kiuuuut...". Serentak meledaklah tawa anak sekelas bagaikan bom atom hirosima. Aku semakin tertunduk lesu di depan kelas tak mampu berbuat apa-apa. Ingin rasanya pergi keujung dunia dan sembunyi di segitiga bermuda seperti parasit, namun kaki ini seakan-akan hilang dan aku tak mampu beranjak barang semilipun.


Setelah bu Yanti puas tertawa, dia akhirnya menenangkan anak - anak. "Tenang... Semuanya tenang. silahkan dilanjutkan perkenalannya."